crita ini gue sadur bulet2 dari mailing list 28.. gue ga tau siapa yg nulis.. so I don’t know whom to credit this to.. tapi isinya bagus banget… so here it goes..
ps: kalo ada yg merasa menjadi penulisnya.. please let me know.. so I can credit this story to you.. 1000x thx..
———————–
Cerita bagus, tapi agak panjang.
Cuma mau ngingetin agar supaya kita baik sama sesama
terutama orang yang gak punya.
Yang terakhir, didalam uang yang kita terima setiap bulan
ada uang hak fakir miskin. Saran saya : ” lebih baik kita
keluarkan dengan rela setiap bulan, daripada diambil
secara tiba tiba tapi jumlahnya besar ”
(Cuma ngingetin, maaf kalo ada yang marah ato tersinggung)
________________________________________________________
Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras.
Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi
barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil
menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan
petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya.
Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu
saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya
dengan sedikit memaksa. Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya,
apalagi di hujan deras seperti ini.
Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar
ucapan penjaja kue semprong tersebut, ‘ Bu, beli kue semprongnya
untuk ongkos pulang ke Tangerang”.
Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan
yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika
tidak ada yang menghabisnya.
Nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja
kue seperti ini ketimbang pengemis. Pelajaran berharga yang pernah
saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu.
Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor.
“Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu
merah mana yang kamu berikan uang?, tanyanya.
Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi ” pasti yang kamu
berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu
kamu acuhkan”. Secara serempak kami mengiyakan.
“coba pikirkan lagi, si pengemis itu pemalas tidak bermoral,
kenapa kita kasih uang, sementara si penjaja makanan ataupun
barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih
baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang
dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut? Teman saya
nyeletuk,”karena kita ngga butuh”. Mantan bos saya bergumam,
“Ya betul karena kita tidak butuh”.
Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya.
Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana
dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja.
Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan
atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.
Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil
saya. Saya menghela nafas.
Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak
sekali penganan yang sudah saya beli tadi.
Akhirnya saya membuka kaca, ” Pak, saya tidak mau beli kue
semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”.
Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan
pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya. Saya tersentak dan menutup
kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam
mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.
Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak
menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi.
Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para
penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali
jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat
tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian
saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini …
Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil,
terbayang ucapannya ” untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara
total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang
Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan.
Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah
kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras
sebuah toko tutup.
Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah. Saya mundurkan mobil
menuju kearahnya. Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri
ditengah guyuran hujan dan menjerit,’Pak, memang harganya berapa ?”.
Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah.
Akhirnya saya katakan,” ya sudah deh beli satu”. Dia mebawa kue
semprong
pesanan saya didalam plastik. Sampai di mobil,” saya serahkan uang,
dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas. Saya tau
dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya
katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”. Dia bengong. “ambil
saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”. Dia meneguk ludah,
sebelum
sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan
pergi.
Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan
diluar sana.
Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya
hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak
Bapak penjaja kue semprong itu. Tiap bulan memang selalu saya sisihkan
buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul- betul
kepada orang yang berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang
berhati mulia, dan betul- betul kepada orang yang membutuhkannya,
betul- betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya
sangat bersyukur atas rahmat-Nya.
Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa
kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya
diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah.
Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang
diberikan
Allah kepada saya dan keluarga saya.
Hujan masih deras mengguyur kaca mobil. Mudah-mudahan hujan cepat
reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa
kehujanan. (ldf 30/7/06)